It's My Life.. My Word.. My Everything

Posts tagged “Goresan

HADIAH TERINDAH

Malam ini entah kenapa bukannya langsung tidur Nanda malah termenung di kamarnya, dia rebahan di kasurnya yang penuh dengan boneka sambil sesekali menatap foto Dian yang tertempel manis di dompetnya. Nanda sebenarnya masih kepikiran dengan perkataan Dian. Tadi siang setelah bubar sekolah Nanda duduk berduan dengan Dian di parkiran, awalnya mereka berdua cuma main tebak-tebakan, mendadak Dian ngomong serius sama Nanda. Katanya,

“ Nan, kamu itu suka nggak sama aku? Kalau aku jadi pacarmu bagaimana?”

Nanda yang kaget karena tiba-tiba ditanya kayak begitu jadi nggak bisa ngomong, dia cuma melongo sambil terus menatap Dian. Dian yang sadar pertanyaannya itu terlalu mendadak, jadi merasa bersalah pada Nanda.

“ Ya udah Nan kalau kamu masih bingung, kamu bisa jawab setelah kamu udah siap, aku tetap akan menunggu kok”, kata Dian sambil bangkit berdiri.

Tanpa memandang Nanda lagi, Dian terus berjalan menuju gerbang dan meninggalkan Nanda yang menatap kepergiannya dengan ekspresi kebingungan. Itulah kejadian tadi siang yang membuat hati Nanda jadi gundah gulana.

“ Aduh Yan aku tuh sebenarnya dari masih SD sudah suka banget sama kamu tapi karena kamu cuek dan kelihatan akrab sama cewek mana aja, aku jadi nggak bisa ngapa-ngapain, aku takutnya perasaanku ini cuma bertepuk sebelah tangan sama kamu, makanya aku berusaha menutupi semua perasaanku. Kamu juga kenapa baru sekarang menanyakan hal sepenting ini?”, bisik Nanda dalam hati.

Nanda memeluk erat dompetnya yang berisi foto Dian dan menutup matanya, sambil membayangkan rupa Dian dalam benaknya, saking asyiknya mengkhayal Nanda sendiri tidak menyadari kalau dia sudah terbawa dalam dunia mimpi yang indah.

Esoknya saat Nanda ingin memberi jawaban perasaannya pada Dian, Diannya ternyata malah sibuk dengan seorang cewek cantik yang bergelayutan di lengannya kayak monyet sama tuannya. Parahnya saat Nanda menyapanya, Dian malah membuang muka dan nyuekin Nanda. Jelas Nanda langsung marah sama Dian, padahal kemarin baru aja nembak sekarang malah sok nggak kenal.

“ Ih… apa-apaan sih kamu tu Yan, kamu tuh ternyata nyebelin banget, untung kemarin aku nggak langsung nerima kamu jadi pacarku, kalau nggak aku bisa sakit hati, ini aja udah nyesakin dadaku padahal kamu bukan siapa-siapanya aku”, maki Nanda dalam hati, pelupuk matanya pun sudah penuh dengan air mata.

“ Kenapa kamu Nan? Kok kayak mau nangis gitu?”, Tanya Sinta, teman sekelas Nanda yang tiba-tiba ada di sebelahnya..

Sinta menghapus airmata Nanda yang mengalir di pipinya dengan tisu yang memang selalu dibawa kemana-mana oleh Sinta.

“ Aku nggak nangis tahu, aku cuma kelilipan debu doank…”, kata Nanda sambil mengucek-ucek matanya.

“ Aduh …kalau kelilipan nggak boleh diucek-ucek matanya Nan, ntar malah tambah sakit lagi, nih bersihin pake tisu”, kata Sinta sembari memberikan selembar tisunya.

Nanda mengambil tisu yang disodorkan Sinta dan menghapus air matanya yang tersisa, sambil berjalan beriringan mereka segera masuk kelas.

Waktu bubar sekolah, tiba-tiba Dian memanggil Nanda sambil ngejar-ngejar gitu, Nanda yang kebetulan kaget plus masih marah sama Dian jelas aja langung kabur, tapi di depan gerbang sekolah Dian berhasil mengejar Nanda dan menangkap lengannya.

“ Nan…bisa dengerin dulu penjelasan aku nggak?”, pinta Dian

Dian mencengkeram lengan Nanda dengan kuat saat Nanda mencoba untuk melarikan diri. Nanda berontak ingin melepaskan diri dari Dian, tapi Dian malah mendorong Nanda ketembok dan menyudutkannya. Nanda yang tahu dirinya sudah terjepit akhirnya menatap tajam mata Dian.

“ Ok! aku harus dengar penjelasanmu ya? Emangnya kamu tuh salah apa ya?”, Tanya Nanda.

“ Please….Nan maafin aku, aku tadi gak bermaksud untuk nyuekin kamu, tadi tuh Mita terus nempelin aku”, kata Dian.

“ Oh…terus apa hubungannya sama aku? Kalau Mita nempel-nempel sama kamu kan bagus. Jadi kamu nggak diganggu sama bunga-bunga sekolah, kumbang secakep kamu, kan juga perlu pengawal”,

Nanda mendorong tubuh Dian dan segera berlari ke luar gerbang sekolah menuju jalan raya.

“ Nan, kamu cemburu ya? Kamu pasti cemburu”, teriak Dian

Nanda berhenti berlari dan menoleh kebelakang sambil mencibirkan bibirnya kearah Dian, Nanda berkata,

“ Dari pada sama kamu, mending aku pacaran sama Pangeran William, ibaratnya kalau kamu kumbang pohon, maka Pangeran aku itu harus kumbang raja.”

“ Hah nggak salah Nan? Paling Pangerannya yang nggak mau sama kamu, mana ada kumbang raja mau sama bunga bangkai kayak kamu gitu”, teriak Dian lagi, sambil berlari kearah Nanda.

Nanda yang sudah merasa kalau Dian akan mengejarnya, segera mengambil langkah seribu. Nanda berlari kearah jalan kecil yang biasanya digunakan sebagai jalan pintas dan meninggalkan Dian yang tersesat dibelakangnya.

“ Gila juga si Dian, emangnya dia pikir aku ini apa. Please….de, ngapain juga aku harus cemburu sama Mita yang udah jelas nggak cantik-cantik amat itu? Apa maksudnya dia bilang aku ini bunga bangkailah, nggak ada pangeran yang mau sama akulah, aduh padahal besokkan ulangtahunku yang ke 17, kenapa kejadiannya malah kayak gini?”, jerit Nanda dalam hati.

Malamnya, waktu Nanda lagi rebahan di kamarnya, mendadak Hpnya berdering plus bergetar plus hampir saja jatuh dari meja belajarnya.

“ SMS..? Hah..h..? Dari si sableng? Ngapain dia make SMS – SMS aku segala?”, kata Nanda, setelah melihat nama Dian di layar Hpnya.

Nanda membuka pesan Dian yang isinya begini

Nanda segera membuka tasnya, bahkan sampai mengorbak-abrik isinya, sesuai anjuran dari Dian pastinya. Eh…ternyata ada surat merah jambu berada disana dan udah pasti itu sesuatu yang dimaksud sama Dian, soalnya nggak mungkin Nanda punya surat kayak gitu, ke kantor pos aja nggak pernah apalagi sampai nulis surat.

“ Waduh, ternyata surat toh, aku pikir tikus got atau ular tadi….cape de…kenapa juga aku harus panik duluan ya? Dian kan nggak kejam-kejam amat naruh ular dalam tasku, he…soalnya kan dia juga takut sama ular…he.he.”, kata Nanda sambil membuka amplop dan mengambil selembar surat didalamnya.

Kertas surat berwarna pink bergambar hati dan mawar itu segera dibaca Nanda,

Ananda Lestari ,

Kalau kamu baca suratku ini……
Artinya aku sudah sampai di rumah…..
sudah makan siang….
sudah tidur siang…..
Sudah segala-galanya………
Sebelumnya maaf ya Nan…
Aku ini sebenarnya nggak bisa nulis surat tapi karena surat ini untuk kamu, aku jadi berusaha mati-matian membuatnya….
Aku tahu kamu tuh besok ulang tahun kan Nan?
Aku pengen banget memberikan kado yang spesial buat kamu….
Karena itu aku mohon datanglah malam ini ke taman bermain pukul 23.30 …..
Aku yakin kamu bakal bilang aku ini gila….
Karena udah nyuruh kamu yang bukan-bukan ….
Tapi please….usahakan datang ya….
Nanti akan ada yang menjemputmu…
Jadi tunggu aja di depan rumah…
Aku nggak mau tahu bagaimanapun caranya….
Kamu bisa keluar lewat pintu belakang atau sekalian lewat jendela….
Aku cuma pengen kamu datang…
Dan asal kamu tahu ya….
Aku bisa mastiin kamu akan datang…..
meski kamu nggak mau sekalipun…

Dian Pratama Putra

Nanda yang membaca surat Dian itu langsung melongo….. Nanda bingung kenapa Dian harus memintanya pergi ke taman bermain…Tengah malam lagi…Apa kata ayahnya kalau sampai tahu ada anak cowok yang mengajaknya keluar malam begini…Apalagi cowok itu anak yang udah dikenal banget sama ayahnya Nanda…Wuih bisa berabe…Untunglah ayahnya dan ibunya lagi pergi ke luar kota menengok neneknya yang sedang sakit…. Kalau nggak, mau nggak mau Nanda harus mengikuti saran Dian untuk kabur lewat jendela…Jelas nggak mungkin kalau Nanda sampai nggak datang… Permintaan pujaan hati apa sih yang nggak Nanda kabulin….Waktu melihat sudah jam sembilan malam tanpa pikir panjang lagi Nanda segera mandi…Biar air sedingin apapun tetap dia terjang. Entah kenapa cuma hal itu yang terlintas di benak Nanda ….Mandi … Berdandan….Dan berdandan.

Pukul 23.30 Nanda sudah siap di teras rumahnya. Nggak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah Nanda dan dari dalam mobil keluar beberapa orang yang memakai tuksedo dan wajahnya ditutupi topeng.salah seorang dari mereka menghampiri Nanda dan memberikan sebuah kotak, dia melepas topengnya… ternyata orang itu adalah…..Eit….Jangan berharap itu Dian, ternyata dia adalah Seto sahabat baik Dian.

“ Eh….kok kamu sih To? Aku pikir tadi penculik… Tapi kenapa kamu berpakaian kayak begitu sih?…Terus ini kotak apaan?”,Tanya Nanda

“ Udah deh Nan…Jangan banyak nanya…Pokoknya sekarang kamu pakai apa yang ada dalam kotak itu…”, Perintah Seto sambil mendorong Nanda masuk kembali ke dalam rumah.

Nggak berapa lama Nanda keluar dengan muka memerah….Tubuhnya terbalut gaun berwarna biru laut….Yang sangat indah. Seto memandangi Nanda sambil memegang dagunya…Mendadak cowok itu mengurai rambut Nanda, dan memasangkan jepit berwarna biru pada rambut Nanda…

“ Oke…Kamu udah cakep…Sekarang tinggal pakai ini buat nutup matamu…”, kata Seto sembari memberikan selendang hitam pada nanda.

Tanpa banyak bicara Nanda mematuhi semua perintah Seto, dia segera menutup matanya dengan ikatan selendang itu. Seto lalu membimbing Nanda menuju mobil. Mobil yang mereka tumpangi kemudian langsung melaju di jalan raya menuju taman bermain.

Sesampainya ditaman bermain Nanda turun dari mobil dan tiba-tiba dia digendong seseorang. Nanda diam saja waktu dia didekap lebih erat, bahkan Nanda malah mengalungkan lengannya di leher orang itu, karena Nanda yakin yang menggendongnya itu adalah Dian, karena semenjak kecil Nanda sudah hapal wangi tubuh Dian, wangi Dian bukan wangi parfum tapi wangi cucumber dari sabun mandi dan detergen, dan hanya satu cowok yang memiliki ibu yang selalu membeli produk beraroma mentimun…Yaitu Tante Sara ibunya Dian.

Tak lama kemudian Nanda didudukkan di kursi dan penutup matanya dibuka. Di depan Nanda terlihat sebuah komedi putar yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu hias dan tiba-tiba lampu-lampu di taman bermain menyala. Orang-orang yang wajahnya ditutupi topeng serta mengenakan gaun dan jas mendadak berdatangan dan mengelilingi Nanda, salah satu diantara mereka yang sudah diketahui Nanda sebagai Seto menghampiri Nanda dan berkata dengan lantang pada semua orang,

“ Baiklah para hadirin…Dapat kita lihat pada jam besar yang ada didepan kita ini….Lima belas menit lagi waktu akan menunjukkan tengah malam …Karena itu acara pada malam ini kita mulai sekarang…Nona ini adalah tamu kehormatan kita yang akan menentukan apakah kita dapat bersenang-senang dalam pesta ini atau kita harus pulang dengan membawa kesedihan… Mari semuanya berikan tepuk tangan yang meriah untuk Nona Ananda Lestari …”

Diiringi tepuk tangan dari semua orang Seto menarik Nanda berdiri dari kursi dan membimbingnya berjalan ke atas panggung. Di atas panggung telah menunggu sepuluh orang cowok yang mengenakan jubah hitam dan wajahnya ditutupi topeng, mereka masing-masing membawa sebuah kotak berwarna-warni. Seto meminta Nanda untuk berdiri dihadapan semua cowok itu, Nanda yang masih kebingungan manut aja menuruti permintaan Seto itu…meski dia sebenarnya tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

“ Baiklah para hadirin, Nona ini akan memilih salah satu dari sepuluh pemuda yang ada di depannya untuk menjadi pasangannya pada pesta dansa kita malam ini. Seperti yang kita semua ketahui, diantara sepuluh pemuda itu ada seorang penyelenggara pesta kita ini, dan apabila Nona Ananda ini beruntung dapat memilihnya maka kita semua berkesempatan untuk melihat sebuah kejutan yang amat menarik. Baiklah kalau begitu silahkan Nona, pilih salah satu pemuda yang anda sukai.”, kata Seto.

“ Hah..? Masa aku harus milih sih seto? Kan wajah mereka nggak kelihatan, bagaimana aku bisa menentukan pilihan? Lagi pula ini semua ada apaan sih? Mana Dian?”, Tanya Nanda.

“ Udah deh nan, pilih aja. Diantara semua cowok itu ada Dian kok, makanya kamu harus milih dengan benar, jangan sampai salah milih. Ntar Dian marah lo.”, bisik Seto ditelinga Nanda.

“ Gimana caranya aku harus milih dari cowok sebanyak ini?”, Tanya Nanda lagi pada Seto dengan berbisik.

“ Kamu lihatkan kotak yang ada ditangan mereka masing-masing? Didalam kotak itu ada benda yang mencerminkan kamu. Mudah kan? Kamu tinggal milih mereka dari kotak itu aja. Selamat berjuang Nan..”, Kata Seto

Nanda melihat isi dari kesepuluh kotak itu, dia berpikir sebentar dan kemudian menghampiri cowok yang memegang kotak berwarna merah jambu yang didalamnya terdapat boneka kucing dan ensklopedia tentang kumbang.

“ Aku memilih dia To…”

Nanda membuka topeng cowok itu dan ternyata benar cowok yang dipilih Nanda adalah Dian.

“ Kok milih aku sih? Kenapa kamu bisa tahu kalau ini aku?”, Tanya Dian
“ Tahu kok…Kan cuma kamu yang suka ngatain aku kucing waktu kita kecil dan cuma aku yang suka ngatain kamu kumbang. Iyakan Dian?”

“ Iya deh… Jadi kamu mau dansa sama aku nih?”

“ Mau sih, tapi ngapain kamu ngelakuin ini semua? Bagaimana kamu minta izinnya?.. Terus apa hadiah yang mau kamu berikan padaku?”

“ Ah… Kalau masalah izin sih gampang, kakak aku kan kerja disini..Terus hadiah buat kamu….”

Belum sempat Dian melanjutkan perkataanya tiba-tiba lampu-lampu di taman bermain itu padam. Dan saat lonceng jam yang berada ditengah taman berdentang sebanyak duabelas kali, mendadak lampu yang menghiasi komedi putar menyala dan membentuk tulisan,

AKU SUKA KAMU NANDA MAUKAH KAMU MENJADI KEKASIH KU

Nanda menutup wajahnya yang telah diguliri air mata, Dian membuka kedua tangan Nanda yang menutupi wajahnya dan berkata,

‘” Ini kado untukmu.” Seto meletakkan boneka kucing dan boneka kumbang sebesar manusia disamping Dian ”Jika kamu menolak aku kamu harus memilih boneka kucing ini, tapi kalau kamu menerima perasaanku kamu bisa memiliki boneka kumbang ini.”

Nanda menatap mata Dian, kemudian menghela nafas panjang, Nanda mengambil boneka kucing dan berkata,

“ Maaf aku tidak bisa.”

“ Jadi kamu menolak ku .”, Tanya Dian putus asa.

“ Maaf…. Aku betul-betul tidak bisa…. Kalau harus menolak mu.”, kata Nanda sambil melempar boneka kucing itu kearah Seto dan memeluk Dian.

“ Aku sayang kamu Nan”. Teriak Dian diiringi tepuk tangan dari semuanya.

“ Aku juga sayang banget sama kamu.”, kata Nanda.

“ Baiklah para hadirin akhirnya Nona Nanda berhasil mendapatkan penyelenggara pesta kita ini yang tidak bukan adalah Dian, kita semua juga sudah melihat kejutan istimewa hari ini, jadi mari semuanya silahkan berdansa.”, kata Seto.

Lampu-lampu yang tadinya telah menyala tiba-tiba kembali padam namun taman bermain itu kini telah diterangi oleh cahaya bulan yang muncul dari sela-sela awan. Semua orang larut berdansa dalam iringan musik di tengah taman. Sementara itu diatas panggung, Dian mencium kening Nanda dan kemudian mereka berdua berdansa dibawah bulan purnama yang bersinar indah, diiringi musik yang mengalun lembut. Tidak seperti Cinderela yang berdansa dengan pangerannya sebelum jam 12 malam, Nanda berdansa dengan pujaan hatinya setelah jam 12 malam dan mendapat kebahagiaan yang selama ini ditunggunya dengan sabar.

“ Ini adalah hadiah yang paling indah dalam hidupku.”, kata Nanda sambil memeluk erat Dian.

 

TAMAT

Iklan

MISS ACACIA

Setiap sore aku selalu berada di sini, di balkon lantai dua sekolahku. Dari balkon ini dapat kulihat seorang gadis yang selalu tidur di bawah pohon akasia yang tumbuh besar di taman belakang rumah sakit yang bersebelahan dengan sekolahku. Seperti hari ini, setelah pulang sekolah aku segera pergi ke tempat favoritku itu. Sambil mengunyah roti coklat yang kubeli di kantin, aku duduk disamping pagar balkon dan menuggu gadis itu datang. Tak lama kemudian, seorang gadis yang mengenakan gaun biru keluar dari pintu belakang rumah sakit dan duduk di bawah naungan pohon akasia. Melihatnya perutku terasa melilit, nadiku berdenyut dua kali lebih cepat, jantungku berdegup kencang dan adrenalinku mengalir lebih deras. Aku yakin dia adalah gadis itu, gadis yang kunamai Misa alias ”Miss Acacia” karena dia selalu tidur di bawah pohon akasia.
Aku senang melihat rambut panjang Misa yang menutupi wajahnya saat dia tertidur, entah kenapa dia jadi terlihat amat manis di mataku. Waktu aku sedang asyik memperhatikannya, tiba-tiba saja dia membuka mata dan memandang ke arahku. Aku terkejut, sehingga tanpa pikir panjang aku segera turun dari balkon dan langsung pulang ke rumah.

…..♣…..

Gara-gara insiden ”kepergok” itu, aku jadi merasa salah tingkah sendiri. Padahal kan belum tentu Misa menyadari kalau selama ini aku suka memperhatikannya. Tapi, kalau dia sampai tahu. Waduh… bisa-bisa aku disangka stalker dan itu pasti bakal bikin aku malu banget! Karena itu, sore ini aku bermaksud untuk langsung pulang ke rumah, seperti yang udah aku lakuin beberapa hari ini. Tapi, saat aku ingin mengambil motorku di parkiran, seseorang dengan wajah yang tertutup lembaran kertas koran malah asyik tertidur di atas motorku.

”Woi! Ngapaen loe tidur di atas motor gue?” bentakku kasar.Orang itu sepertinya kaget banget mendengar bentakkanku, dia langsung terbangun dan jatuh dengan sukses dari atas jok motor. Ketika dia bangkit berdiri dan mengangkat mukanya, malah aku yang giliran kaget. Surprise! Ternyata orang yang kubentak itu adalah Miss Acacia. Aku sampai pangling dibuatnya, soalnya seumur-umur baru kali ini aku melihat Misa mengenakan celana jeans dan t-shirt.

”Misa?” kataku tanpa sadar saking kagetnya.

Mendengar perkataanku Misa menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang dan kemudian menatapku bingung.

”Kamu bicara sama aku ya?” tanyanya.

Aku langsung menepuk keningku dan mengucapkan sumpah serapah dalam hati. ”Goblok banget sih gue, ngapaen juga gue manggil dia Misa? Ya jelas dia kagak tahu. La… itu aja bukan namanya.” Aku meringis dan menggaruk-garuk kepalaku.

”Sorry, gue cuma asal aja…!” kataku sambil membungkuk-bungkukkan badan.

”Seharusnya aku yang minta maaf, karena udah seenaknya tidur diatas motormu,” kata Misa sopan.

”Oh? No problem kok.” jawabku.

Misa mengulurkan tangannya ke arahku, terlihat bekas sayatan di pergelangan tangan kanannya.

”Kenalkan, namaku Emyle Larasati. Tapi, kalau kamu lebih suka memanggilku dengan nama…em… Sasa? …Mita? Apa sih katamu tadi?”

”Misa.” jawabku cepat.

”Ah…iya Misa! Nama itu juga tidak apa-apa kok.”

Aku menjabat tangan Misa dan memperkenalkan diriku.

”Okay. It’s a deal! Kenalin, gue Dafi. Lengkapnya Dafi Ramadhan, gue masih single alias jomblo.”

Misa meneliti wajahku dan kemudian berkata, ”Sepertinya aku pernah liat kamu deh… Kamu tuh orang yang setiap sore sering duduk di balkon sekolah kan?”

Aku terdiam. ”Waduh! Gawat neh, ternyata gue ketahuan. Aduh… sial banget sih gue!” Rutukku dalam hati sambil nyengir kuda. ”Iya, itu emang gue. Loe juga kan? Gue sering liat loe dibawah pohon akasia yang ada di belakang rumah sakit.” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

”Ha? E’eh, itu memang aku. Kebetulan banget ya… kayak udah jodoh aja” canda Misa sembari tertawa.

Aku juga ikut tertawa, tapi dalam hati aku berkata, ”Iya! Itu emang kebetulan Sa…. tapi kebetulan yang gue sengaja.”

…..♦…..

Sejak saat itu aku berteman akrab dengan Misa. Setiap hari, aku rela memanjat pagar tembok rumah sakit, hanya untuk menemui Misa yang menungguku di bawah pohon akasia. Misa sering menceritakan semua tentang dirinya padaku, entah itu tentang masa kecilnya, keluarganya, masalah ketidakcocokannya dengan ayahnya atau penderitaannya yang diisolir di rumah sakit, sampai harus kabur diam-diam hanya untuk jalan-jalan.

Aku juga sering menceritakan masalahku kepadanya, tentang kekejaman ibu tiriku, kegemaran ayahku memukuliku dan mengenai penyakit insomnia yang kuderita.

Semakin lama aku berteman dengan Misa, dengan segala kesamaan di antara kami berdua, aku merasa perasaan suka dan sayangku padanya semakin bertambah besar dan menjelma menjadi cinta. Cinta yang menurut guruku adalah reaksi biokimia yang terjadi karena adanya rangsangan bawah sadar manusia yang dipengaruhi oleh hormon oksitoksin dan hormon feromon, dengan tujuan untuk mempunyai keturunan. Apapun arti cinta itu untuk orang lain, tapi bagiku cinta itu adalah perasaan yang selalu kurasakan saat aku bersama Misa.

Pernah suatu malam aku nekat mengajak Misa pergi diam-diam dari rumah sakit. Aku tidak menyesal melakukannya, karena Misa terlihat sangat bahagia, tawa selalu menghiasi wajahnya saat aku membawanya mengunjungi Pasar Malam. Aku memberinya sebuah boneka beruang dan aku menyatakan perasaan cintaku padanya, tepat pada saat keranjang bianglala yang kami naiki berada di puncaknya. Aku sangat bahagia karena dia mau menerima perasaanku dan bersedia menjadi kekasihku. Miss Acacia yang selalu kukagumi dan kuperhatikan akhirnya bisa menjadi milikku.

…..♣…..

Tak terasa sudah dua bulan lebih aku dan Misa berpacaran diam-diam, tapi aku tetap tidak mengetahui apa penyakit yang Misa derita. Hingga pada suatu malam, Misa tiba-tiba menghubungiku. Dia memintaku untuk menjemputnya di gerbang depan sekolah, dari suaranya yang terdengar ngos-ngosan aku yakin Misa melarikan diri dari rumah sakit. Saking khawatirnya pada Misa, aku sampai mengacuhkan ayahku dan melarikan motorku secepatnya meninggalkan rumah. Sesampainya disana, aku segera menghampiri Misa yang berdiri di pojokan gerbang.

”Misa? Apa yang terjadi?” tanyaku.

Misa yang memanggul tas ransel dipundaknya segera memelukku erat dan berkata, ”Tolong aku Daf. Bawa aku pergi dari sini, aku sudah tidak sanggup lagi terkurung di rumah sakit.”

”Iya, Sa… Gue akan bawa loe pergi dari sini.” kataku menenangkannya.

Saat itu juga aku membawa kabur Misa. Dengan uang secukupnya yang kuambil dari ATM, aku mengajaknya pergi ke Kota Baru, jauh dari ayahnya, jauh dari rumah sakit yang telah memenjarakannya. Kami menginap di sebuah losmen dan hidup seadanya, setiap hari aku mengajaknya bersenang-senang dengan pergi ke tempat-tempat wisata.
Tapi beberapa hari terakhir ini Misa terlihat murung dan gelisah, aku ingin membuatnya gembira. Karena itu, malam ini aku mengajaknya melihat pemandangan indah dari atap gedung pencakar langit.

”Daf, apakah kamu mencintaiku?” tanya Misa, saat kami sedang asyik melihat pemandangan malam dari atap gedung.
Aku melepaskan jaketku dan mengenakannya ke tubuh Misa yang terlihat kedinginan. Dari belakang, aku memeluk tubuh Misa dan mengelus pelan kepalanya. Tercium di hidungku aroma tubuh Misa yang memabukkan, seperti zat euforia dalam bunga opium yang bisa membuat kecanduan.

”Tentu aja gue cinta ama loe, cinta mati malah. Masa loe gak percaya sih?” kataku lembut di telinganya.

”Bener kamu cinta mati padaku?”

”Suer deh! Gue ga bo’ong.” jawabku.

”Kalau gitu… buktiin Daf.”

Misa berbalik dan memeluk tubuhku erat. Tiba-tiba kurasakan perutku perih dan sakit. Aku mendorong tubuh Misa menjauh dari tubuhku, aku melihat sebuah pisau lipat yang berlumuran darah di genggaman tangannya.

”Misa….. Apa? Apa yang loe lakuin?” rintihku kesakitan sambil memegang perutku, darah merembes keluar dari kemajaku yang sobek.

”Kenapa loe lakuin ini ke gue?” tanyaku lagi saking shocknya.

”Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Daf.” kata Misa pelan sembari mendekatiku, jemarinya yang dingin menyentuh wajahku.

”Omong kosong! Kalau loe cinta ama gue. Kenapa loe nusuk gue?” teriakku, aku melangkah mundur, menghindari Misa yang terus mendekat.

”Aku mencintaimu Daf, karena itu aku ingin kamu bahagia.” jawab Misa sambil terus mencoba melukaiku dengan pisau di tangannya.

”Loe bohong! Loe mau bunuh gue kan?”

Aku terus mundur menjauhi Misa, hingga punggungku menyentuh pagar kawat pelindung yang mengelilingi atap.

”Aku ingin kamu bahagia Daf, karena itu aku melakukan ini. Kalau terus hidup tersiksa di dunia yang kejam ini, kamu pasti hancur, Daf. Karena itu aku akan mengakhiri penderitaanmu. Kamu akan bahagia untuk selamanya, tidak perlu lagi mendengarkan cacian ibumu, merasakan pukulan ayahmu dan kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan insomniamu, karena kamu akan tidur untuk selamanya.”

Misa menarik kemejaku dan menikamkan pisau lipat di genggamannya ke dada kiriku.

”Aaargh….” erangku kesakitan.

Aku menyandarkan tubuhku di pagar, pisau yang menancap di dadaku terasa panas dan menyakitkan.

”Misa….. kalau loe butuh bukti atas cinta gue…. bukan kayak gini caranya,” kataku lagi.

”Tidak! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Daf.”

Air mata jatuh berlinang di pipi Misa, namun senyuman terus menghiasi wajahnya. Entah kenapa, ketakutan dan perasaan ngeri tiba-tiba saja menyergap hatiku, rasanya aku seperti terkena klaustrofobia. Padahal aku sedang berada di tempat yang luas dan terbuka tanpa sekat sedikit pun.

”Misa…. elo…. elo nggak… cinta sama… gue!” kataku terbata.

Tubuhku terasa berat, sakit yang luar biasa terasa membakar perut dan dadaku, kepalaku pusing dan pandanganku pun terasa berputar-putar. Tiba-tiba beberapa lelaki berpakaian putih keluar dari arah pintu masuk dan berlari menghampiri kami sambil berteriak,

”Tangkap gadis itu! Dia adalah Emyle, gadis yang menderita gangguan jiwa.”

”Gawat. Tampaknya pemuda itu telah menjadi korban Emyle.” kata seseorang di antara mereka.

Aku menatap Misa. Miss Acaciaku itu tersenyum dan mendorong tubuhku dengan kuat. Tiang pagar yang sudah lapuk tidak mampu menyangga tubuhku sehingga akhirnya patah, membuatku limbung dan kehilangan pijakan. Aku jatuh dari atap, terjun bebas tanpa memakai pelindung apapun langsung menuju tanah.

”Misa… ternyata penyakit loe emang benar-benar parah. Ha..haa..ha… gue baru tahu kalau loe sakit jiwa… loe gila… loe ga waras… loe psikopat…. Gue udah ketangkap ama loe Miss Acacia. Loe sama aja kayak pohon akasia besar yang terlihat menyejukkan, tapi sebenarnya menyimpan kekejaman yang mengerikan…” bisikku.

Perlahan aku menutup mata dan terus merintihkan nama Misa. Tidak lagi kurasakan perih yang menyakitkan di perut dan dadaku, yang terasa hanyalah kegelapan yang menelanku dalam keheningan yang dingin dan mencekam…..

…..♥…..

Di ruang tunggu Penginapan Melati, seorang pemuda bernama Julian sedang bersantai di sofa sambil asyik menyaksikan tayangan berita kriminal di televisi. Mata Julian terpaku pada presenter liputan 2 siang, yang mulai membacakan beritanya….

”Berita terbunuhnya seorang pemuda bernama Dafi Ramadhan di sebuah gedung pencakar langit di Kota Baru masih terus dipublikasikan media massa. Pemuda itu dibunuh oleh seorang gadis yang mengalami gangguan jiwa bernama Emyle Larasati,yang ternyata putri dari seorang pemilik rumah sakit besar di Banjarmasin. Menurut sumber, Emyle ternyata juga membunuh ibu dan kakak kandungnya dua tahun silam, karena tidak tahan melihat penyiksaan yang dilakukan ayahnya terhadap keduanya. Polisi yang berkerjasama dengan pihak rumah sakit terkait yang merawatnya masih terus melacak jejak Emyle yang berhasil melarikan diri. Inilah foto Emyle… yang menjadi tersangka pembunuhan!”

Belum sempat Julian melihat foto yang dipertontonkan, tiba-tiba saja seorang gadis berambut cepak mematikan televisi dan duduk disampingnya. Julian menatap sinis gadis yang telah mengganggunya itu, tapi kemudian ekspresi sangarnya berubah menjadi senyuman. Ternyata gadis itu berparas cantik dan manis, membuat Julian terpana dan kemarahannya mereda.

”Hai, kayaknya loe orang baru ya? Kenalin gue Julian, anaknya Tante Mira pemilik penginapan ini.” sapa Julian cepat.
Gadis yang memiliki bekas sayatan dipergelangan tangan kanannya itu tersenyum, sembari menjabat tangan Julian dia berkata,

”Iya. Aku baru check in tadi pagi. Kenalkan, namaku Misa Ramadhan….”

….. ♪…..